PERSPEKTIF

Teruntuk diriku yang nafsunya akan ditempa lagi pada Ramadhan 1440 H ini.

Apa kabar diriku yang 24 tahun lebih didunia ini? Sudah merasa bahagiakah?

Diri yang berulang kali remedi karena kejahilan selama ini, semoga Ramadhan sekarang banyak menangisi dosa di tangan, mulut, mata, telinga, tangan dan kaki. Tak tau ini Ramadhan keberapa sebelum bertemu Illahi.

Diriku, jatuh bangun memang perang melawan diri sendiri. Malas sebagai biang kebodohan, seakan tak mau lepas dalam diri. Walau sudah berstatus sebagai istri masih saja banyak PR yang belum terbenahi.

Diriku, sabar memang tak ada tepiannya. Namun ketika menjalaninya kita sama sama susah menyelami. Kadang tak sadar sudah terkalut dalam emosi, keluar dalam kolam sanubari. Kadang wanita yang katanya hatinya lembut bagai kapas, malah mendapati diri bagaikan kerikil panas. Lagi, lagi dan lagi berharap Ramadhan kali ini dapat jadi penyejuk diri.

Diriku, kali ini kita memasuki Ramadhan dalam kesendirian. Sedih, tak ada rasanya yang dimiliki. Roda sedang berputar saatnya kita dibawah, kita tak miliki apa-apa. Mungkin ini panggilan dariNya, atas diri yang banyak lalai dari meminta. Bukan tentang materi, namun mencari tabungan hari nanti.

Diriku, kewarasan mengenai dunia dan akhirat semoga tetap teringat. Walau berbagai perspektif datang menghujam, menjatuhkan diri, menyahat hati, semoga kata “biar” akan jadi tameng diri. Bukan perspektif dunia yang kita pakai, tapi mencoba mengikuti apa yang abadi.

Diriku, tak perlu bersedih hati. Tuhan telah memberi dengan adil, dan akan membagi rezeki hingga ajal mengampiri.

Diriku, tetaplah kuat melawan diri dan peganglah do’a didalam hati 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *