Muara

Haloha! Assalamualaikum semuanya :”)

Setelah sekian lama vakum akhirnya bisa kembali, terharu rasanya bisa kembali menulis di blog ini.

Untuk mengakhiri kevakuman selama setahun lalu, aku mengawali tulisan ini yang kutujukan ke saudara, sahabat dan teman-teman yang berkenan hadir ataupun mendo’akan dari jauh di hari pernikahan aku dan suamiku, Deo. Aku sadari, tangan ini belum pasti bisa menjabat satu persatu dihari bahagia kalian, raga ini pun tak tau entah bisa bertemu atau tidak nantinya, yang pasti do’a terbaik aku untuk kalian. Makasih yang tak terhingga untuk semuanya :”)

Tulisan ini pun ku harapkan bisa menjadi pengingat dikala diriku merasa dunia yang fana ini membuat raga terasa terhimpit atau jiwa terasa terjepit hingga sakitnya membuat mata menyipit, karna sejatinya kita tak ada yang ingin sakit. Namun kadang secara sadar ataupun tidak, kita pernah menyakiti dan disakiti. Dan butuh pengingat untuk mengambil langkah ketika hal itu terjadi.

Seperti sebuah aliran air kita akan menuju sebuah tempat akhir, ber-muara. Namun sebelum bermuara kesuatu akhir, pernahkah kita berfikir tentang langkah awal yang akan kita ambil? Sebuah langkah awal akan mengantarkan kita ke muara yang kita yakini. Hidup itu antara yakin dan tidaknya kita menjalani, jangan tanya jalan seperti apa yang akan ditempuh, pastinya itu bukan kuasa kita. Namun ketika mengawali langkah dengan namaNya yang Maha Berkuasa, apapun akan terjadi, kunfayakun, yakinlah!

Sadar atau tidak sebenarnya kitalah yang cenderung membuka peluang untuk menyakiti diri sendiri. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain, hingga merasa tak memiliki nilai dalam hidup. Memungkiri bahwa kita terlahir dengan tujuan dan memberi manfaat, sebab terlalu banyak diam dibanding take action. Dan banyak lagi racun yang sebenarnya kita masukkan karena lebih sering melihat keluar dibanding kedalam diri kita. Sudahkah kita mencoba mengenal diri kita?

Muara

Pernahkah kita berfikir “kenapa ya aku menjadi aku yang sekarang?” “apa yang udah tuju dalam hidup?” “apa yang udah aku dapatkan dalam hidup?” “kedepan aku mau ngapain ya?” dan berbagai pertanyaan lain seputar kehidupan. Dan taukah teman-teman jika mempertanyakan hal tersebut berarti kamu sedang memasuki masa Quarter life crisis. Disekitaran umur 25 kita akan merasakan adanya krisis, yang mana pada situasi ini dapat menjadi turning point (titik balik) yang dapat membuat hidup kita menjadi lebih baik atau bahkan buruk.

Dan tentunya kita ingin akan turning point ini menjadi baik, apa yang sebaiknya kita lakukan? Ini bukanlah jawaban mutlak, namun tentukan muaramu! Kelak ketika apa yang kita lakukan dihari ini, kemaren atau pun masa depan pastikan bahwa itu bukanlah hal yang sia-sia. Ya, membuat berbagai hal yang kita lakukan selama 24 jam jatah hidup perhari menjadi modal untuk hidup yang abadi, akhirat. Memuarakan semua hal dalam hidup kepada illahirobbi, Allah.

Kadang kita lupa untuk berbahagia, karena terlalu sering melihat kiri-kanan yang tampak penuh dengan nikmat. Hingga akhirnya terlupa untuk menyadari bahwa kehidupan kita itu unik, berbeda satu sama lain. Jangan takut jika merasa berbeda dan memiliki alir yang berbeda jika kita tahu muara kita. Sebab Allah yang Maha Adil telah menciptakan sedemikian rupa episode hidup kita hingga sempurna hikmah yang dapat kita ambil. Kita akan merasakan indahnya sabar, setelah diberi cobaan. Kita akan merasakan indahnya persaudaraan, setelah merasakan kesendirian. Kita akan merasakan indahnya syukur, setelah kita kehilangan. Dan banyak lagi hal lainnya dalam hidup ini. Jika kita yakin semua episode hidup dengan berbagai rasa manis-asam-pahitnya merupakan pemberian dari Allah, maka jika kita niatkan semua yang kita lakukan ketika menghadapi hidup yang nano-nano ini karenaNya, percayalah selalu ada kemudahan dikala kesulitan. Ada harapan, dikala keterpurukan. Dan semoga kita selalu diberi kesadaran bahwa muara kita bukanlah didunia ini 🙂

Setelah menentukan muara maka saatnya memulai perjalanan baru yang terarah dan penuh keyakinan. Aku juga masih merasakan masa krisis ini yang kadang masih merasa galau, sedih, takut, dan berbagai hal lain yang rasanya getir. Jika kamu mau berbagi pandangan kamu, silahkan tulis pendapat kamu yaa.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Jangan lupa “menyebut” (baca: berniat) dengan nama Allah disetiap aktivitasmu daaaan jangan lupa senyum 🙂

Pomala, 22 Okober 2018.

*Untuk tulisan selanjutnya aku akan nulis tentang salah satu perjalanan ke muara yang aku tuju. Perjalanan tentang perasaan yang disatukan #eaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *