Kuliah,  Pengalaman,  Perjalanan

Budaya Mengkritik

Apo ko diak? -Bahasa Minang

Apa ini dek? -Bahasa Indonesia

Kata diatas merupakan kata yang biasa ditemui para praktikan di laporan mereka. Dengan berbagai parameter yang dibuat asisten, biasanya nilai kepala tujuh bisa dikatakan Alhamdulillah dan untuk nilai berkepala enam bersiaplah untuk beristighfar, astaghfirullah.

Dilaporan praktikum biasanya akan ada banyak sekali kritik dari asisten. Maklum, laporan praktikumkan dibuat dengan tulisan tangan jadi aka nada banyak sekali gaya tulisan mulai dari ala-ala comic sans, arial+italic, papyrus, curlz MT, bahkan chiller 😀 Biasanya akan ada banyak sekali kritik asisten mengenai isi maupun tulisan. Ya, kritik memang acap kali dikaitkan sesuatu yang pedas bahkan cenderung menyakitkan hati. Namun, tanpa kita sadari mengritik telah membudaya bagi kita.

Dari 18 laboratorium yang pernah saya hampiri selama kuliah, ada satu hal yang sangat membekas bagi saya. Begini ceritanya, waktu itu saya membuat laporan akhir suatu praktikum. Sebab data hasil praktikum tersebut terlalu banyak, saya pun berinisiatif untuk membuat hasil praktikum saya kebentuk tabel (sedangkan yang biasanya dibuat dalam baris biasa). Saya memang agak berbeda kali itu, saya melihat laporan saya lebih rapi dan enak dipandang mata dari pada biasanya (biasanya font chiller, kali ini saya pakai font Calibri). Dan ketika akan pulang, tak seperti biasanya ada sedikit note yang diberi oleh asisten saya kali itu “Very Good!”

IMG_0002
Lebih mudah mengkritik atau memujikah kita?

Wow, sontak saya pun merasa senang akan hal itu. Walupun hanya satu kata, itu merupakan hal yang berarti bagi saya. Jujur, kalau dihitung-hitung persentase nilai laporan ini sangatlah kecil jika dalam proses penilaian. Namun kali ini ada senior asisten yang memberi nilai dengan cara yang berbeda dari pada kritik mainstream yang biasa saya dapatkan. Seakan-akan senior saya bisa merasakan bahwa disetiap kata dalam laporan saya harus saya perjuangkan dengan melawan kantuk dan penat, karena setelah seharian saya kuliah dan menghabiskan waktu dilabor #eaaa #eaaa

Respon dari senior tersebut membuat saya puas, dan bagi saya hal itu sudah membayar lelah letih saya berjuang untuk laporan tersebut. Ternyata penghargaan bukan hanya berupa angka, namun juga bagaimana respon orang lain terhadap apa yang saya sampaikan.

Jadi, ketika diposisi menjadi seorang senior pun saya mencoba melakukan hal yang sama, sebagai bentuk penghargaan saya kepada praktikan yang sudah melaksanakan kewajibannya. Sebab, dalam budaya kita masih saja menghargai orang lain adalah hal yang berat, sedangkan mengkritik adalah hal yang ringan. Jadi, lebih baik  jika kita tidak hanya budaya mengkritik, tapi juga memuji kan?

 

Jika ingin dihargai, mulailah dengan menghargai orang lain

Saya masih belajar menjadi manusia yang bisa bermanfaat untuk sesama, salam kenal dan mari ngobrol :)

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *